“Di Usia 27, Way Kanan Bertanya”
Di usia dua puluh tujuh,
kau berdiri dengan selempang perayaan,
bendera berkibar,
doa dilangitkan,
dan pidato kembali dipanjangkan.
Wahai Way Kanan,
tanah yang kami pijak dengan harap,
kami rayakan namamu hari ini—
namun langkah kami masih tertatih
di jalan yang tak kunjung sembuh.
Aspal yang retak
lebih jujur dari janji,
lubang-lubang menganga
seakan bertanya:
di mana arah pembangunan itu berjalan?
Kami tidak buta pada capaian,
gedung berdiri, baliho menghiasi,
kata “maju” sering diucap,
namun di sudut-sudut sunyi,
harapan sering tertinggal tanpa jawaban.
Saran-saran kami pernah disampaikan,
dalam forum, dalam diam, bahkan di jalanan,
tapi entah ke mana perginya—
menguap bersama waktu,
hilang tanpa jejak perhatian.
Di usia ini,
kami tidak hanya ingin merayakan,
kami ingin didengar.
Bukan sekadar angka pertumbuhan,
tapi rasa keadilan yang benar-benar tumbuh.
Way Kanan,
jika ulang tahun adalah refleksi,
maka dengarlah suara kecil ini—
yang mencintaimu tanpa syarat,
namun lelah menunggu perubahan.
Sebab kami percaya,
di balik jalan yang rusak,
masih ada harapan yang bisa diperbaiki,
asal ada niat,
bukan sekadar seremoni.
Selamat ulang tahun ke-27,
semoga bukan hanya usia yang bertambah,
tapi juga keberanian untuk berbenah. PN – ALDA






