Cerpen “Anak yang Malang”

by -102 Views

Anak yang Malang

Langit sore di ujung kebun itu tampak muram. Angin berhembus pelan melewati dinding rumah papan yang sudah miring dimakan usia. Atapnya bocor di sana-sini. Bila hujan turun, air menetes seperti sengaja menghitung penderitaan penghuninya.

Di rumah kecil itulah Bujang menghabiskan masa kecilnya bersama ibu dan saudara-saudaranya.

Tahun 1993 menjadi tahun paling kelam dalam hidup mereka. Saat itu ayah Bujang meninggal dunia setelah lama sakit tanpa pengobatan yang layak. Sejak hari itu, kehidupan keluarga mereka berubah menjadi penuh penderitaan.

Ibu Bujang, Sulastri, hanyalah perempuan sederhana yang berjuang membesarkan anak-anaknya seorang diri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia mengandalkan hasil berjualan sayur-sayuran dan bekerja upahan di kebun milik orang lain.

Keluarga itu terdiri dari enam bersaudara. Dua kakak perempuan Bujang sudah menikah dan telah memiliki anak, mereka tinggal mengikuti suami masing-masing. Tinggallah Bujang yang saat itu masih belum sekolah, bersama kakaknya Dodi yang yang duduk di kelas enam sd, Siska yang masih kecil, dan si bungsu Bayu yang bahkan baru belajar duduk.

Rumah mereka berdiri jauh di tengah kebun kopi dan dikelilingi hutan lebat tanpa tetangga di sekitarnya. Untuk menuju jalan kampung harus berjalan kaki cukup jauh melewati jalan setapak yang sunyi. Rumah papan itu hampir roboh. Dindingnya berlubang, dan atapnya bocor di mana-mana.

Jika malam datang, hanya lampu minyak kecil yang menemani mereka. Suara burung malam dan desir angin hutan membuat suasana terasa semakin sunyi dan menyeramkan.

Bujang kecil tumbuh dalam keadaan yang tak pernah mudah.

setahun ayahnya meninggal dunia dia sekolah berjalan kaki jauh menuju sekolah dengan perut kosong. Sepulang sekolah, ia membantu sering ibunya memetik sayuran untuk dijual keesokan harinya demi mendapatkan uang receh untuk membeli beras.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah lapar.

Melainkan perlakuan manusia.

Banyak orang memandang rendah keluarga mereka. Bahkan sebagian saudara sendiri seolah tak peduli dengan penderitaan yang mereka alami. Bukannya membantu, ada yang justru memusuhi dan menjauh.

“Jangan dekat-dekat dengan keluarga itu,” pernah Bujang mendengar bisikan orang-orang.

Ucapan itu terus membekas hingga ia dewasa.

Suatu malam hujan turun begitu deras. Angin mengguncang rumah tua mereka sampai hampir roboh. Ibunya memeluk Bayu yang menangis ketakutan, sementara Bujang dan Dodi sibuk menampung air hujan dengan ember bekas.

“Ibu… apa rumah kita akan roboh?” tanya Dodi dengan wajah pucat.

Ibunya tersenyum pelan meski matanya berkaca-kaca.

“Selama kita masih bersama, rumah ini masih kuat,” jawabnya lirih.

Kalimat itu tak pernah dilupakan Bujang sepanjang hidupnya.

Waktu terus berjalan.

Tahun demi tahun berlalu dengan penuh perjuangan. Bujang akhirnya tumbuh dewasa. Meski masa kecilnya penuh luka, ia tetap berusaha menjadi lelaki kuat seperti yang diinginkan ibunya.

Kini Bujang telah memiliki tiga orang anak dua putri dan satu laki laki. Ia bertekad agar anak-anaknya tidak merasakan pahitnya kehidupan seperti yang pernah ia alami dahulu.

Namun luka hidup kembali datang.

Dua tahun lalu, ibunya meninggal dunia.

Perempuan tua yang selama hidupnya bertahan di tengah kemiskinan itu akhirnya pergi untuk selamanya. Sejak kepergian sang ibu, Bujang sering termenung sendiri mengingat masa kecilnya di rumah reyot tengah kebun.

Kadang ia duduk memandang langit sore sambil mengingat suara ibunya.

Ia rindu.

Rindu pada perempuan yang dulu tetap tersenyum meski hidup begitu kejam.

Rumah tua itu habis terbakar. Kebun yang dulu menjadi saksi penderitaan mereka mulai sunyi. Tetapi kenangan tentang perjuangan seorang ibu tidak pernah hilang dari hati Bujang.

Ia sadar hidup telah mengajarinya banyak hal.

Tentang lapar.

Tentang hinaan.

Tentang kehilangan.

Dan tentang bagaimana bertahan meski dunia seperti tak berpihak.

Bujang kini percaya…

Anak yang dulu dianggap malang itu ternyata mampu bertahan hidup sampai hari ini.

Karena sesungguhnya, manusia kuat bukanlah mereka yang hidup tanpa luka.

Melainkan mereka yang tetap berjalan meski hatinya penuh duka. PN – SR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.