Kemarau Mulai Menyapa Bumi Ramik Ragom
Mentari datang lebih awal pagi ini,
menyusuri bukit dan lembah di tanah Way Kanan.
Embun yang dahulu setia di pucuk daun kopi,
kini perlahan menghilang bersama hembusan angin kemarau.
Sawah-sawah mulai merekah,
retakan tanah menjadi guratan cerita kehidupan.
Sungai-sungai kecil yang biasa bernyanyi,
kini berbisik pelan di antara bebatuan yang mengering.
Di kebun-kebun kopi,
petani memandang langit dengan penuh harap.
Menanti awan datang membawa kabar,
bahwa hujan masih mengingat jalan pulang.
Way Kanan,
tanah yang ditempa panas dan hujan,
tak pernah menyerah pada musim yang berganti.
Karena di setiap kemarau yang panjang,
tersimpan doa-doa yang lebih panjang lagi.
Anak-anak tetap bermain di bawah langit biru,
burung-burung masih terbang melintasi hutan dan ladang,
sementara para petani menengadahkan tangan,
memohon keberkahan kepada Sang Pencipta.
Kemarau mungkin datang membawa dahaga,
namun tidak mampu mengeringkan harapan.
Sebab masyarakat Way Kanan telah belajar,
bahwa setelah panas yang membakar bumi,
akan selalu ada hujan yang menyuburkan kembali kehidupan.
Dan ketika awan kelak kembali menggantung di langit Ramik Ragom,
setiap tetes hujan akan disambut syukur,
seperti seorang sahabat lama
yang pulang setelah perjalanan panjang. PN – DONI





